Tampilkan postingan dengan label Job Safety Analysis. Tampilkan semua postingan

Manfaat JSA Yang Dibuat Secara Sistematis

Manfaat JSA yang dibuat secara sistematis
JSA yang dibuat dengan berbagai metode yang sudah kita bahas sebelumnya, maka kita akan memperoleh beberapa manfaat terhadap pelaksanaan pekerjaan. Dengan berfikir tentang bagaimana kita akan melakukan suatu pekerjaan, dengan menggunakan JSA yang sudah kita buat, kita dapat mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan pekerjaan yang kita lakukan.
JSA yang
dibuat dengan proses analisa yang baik dapat menghasilkan :
  • Prosedur kerja baru yang lebih sistemik.
Hal ini dimungkinkan bila kita menjumpai proses pekerjaan yang belum pernah kita temui sebelumnya. Bisa terjadi oleh sebab adanya perubahan pekerjaan (perubahan gambar) atau karena kondisi tertentu.
  • Pembaharuan prosedur yang sudah ada.
Prosedur yang lama akan disempurnakan dengan analisa JSA yang baik.
  • Perubahan sebagian prosedur.
Dalam penerapannya, proses analisa sebelum pembuatan JSA yang akhirnya menghasilkan JSA bisa menimbulkan perubahan pada sebagian prosedur yang bisa berimbas pada efektifitas pekerjaan.
  • Perubahan kondisi.
  • Perubahan aktifitas pekerjaan.
Erat kaitannya dengan efektifitas dan efisiensi proses pekerjaan dengan tetap memperhatikan unsur keselamatan kerja
  • Pekerjaan yang lebih aman.
Keuntungan bagi perorangan dan juga perusahaan adalah menciptakan lingkungan kerja yang aman, mengurangi resiko kecelakaan, terlibat dalam proses kerja dan mengurangi biaya. 

Cara Membuat Job Safety Analysis

Cara Membuat Job Safety Analysis

Ada beberapa tahapan penting yang harus kita lakukan sebelum membuat Analisa Keselamatan Kerja (AKK) / Job Safety Analysis (JSA).

A. Identifikasi Pekerjaan Yang Akan Dianalisa

Sebelum membuat JSA, kita perlu mengidentifikasi dan memprioritaskan pekerjaan yang akan dianalisa. Ada beberapa kriteria pemilihan yang bisa kita gunakan untuk memutuskan pekerjaan mana yang akan dianalisa. Berikut hal-hal yang perlu dipertimbangkan :
1. Potensi bahaya (pilih pekerjaan yang berresiko tinggi),
2. Sejarah kecelakaan terhadap pekerjaan tersebut (pilih pekerjaan dengan sejarah banyaknya kecelakaan),
3. Pekerjaan yang sangat baru dilakukan (JSA untuk pekerjaan baru atau perubahan metode membantu membuat prosedur),
4. Pekerjaan yang memiliki potensi cidera (pilih pekerjaan dengan potensi tinggi terjadinya kecelakaan yang serius atau parah).

B. Pecah Pekerjaan Tersebut Menjadi Beberapa Langkah

Pemecahan langkah kerja menjadi beberapa tahapan pekerjaan sangat membantu sekali dalam pemeriksaan kritis yang sistematik dari tiap langkah kerja untuk mengidentifikasi bahaya atau potensi kecelakaan pada tiap tahapan pekerjaan tersebut. Langkah-langkah tersebut harus menjelaskan apa yang akan dilakukan dan urutannya. Tantangannya disini adalah jangan terlalu jauh atau kurang dalam menganalisa pekerjaan tersebut.

Pekerjaan apapun dapat dipecah menjadi rangkaian langkah kerja. Kebanyakan akan dipecah menjadi kurang dari 10 langkah untuk tujuan pembuatan Job Safety Analysis. Jika langkah kerjanya lebih banyak, bagi menjadi beberapa bagian kerja dan buat Job Safety Analysis tambahan.

Ketika membuat Job Safety Analysis ada beberapa aturan dasar yang harus diikuti. Berikut ini aturan dasar ketika membuat Job Safety Analysis:

1. Jelaskan apa yang harus dilakukan di tiap langkah kerja (bukan bagaimana?),
2. Jangan menyebutkan bahaya,
3. Jangan mengulas pencegahan bahaya,
4. Langkah-langkah kerja dijelaskan secara umum,
5. Jelaskan langkah kerja dengan kata kerja "melakukan sesuatu",
6. Sepakati langkah kerja hanya sekali.

C. Identifikasi Bahaya Dari Tiap Langkah Kerja

Setelah langkah kerja telah diidentifikasi, bahaya dan potensi kecelakaan di tiap langkah kerja perlu diidentifikasi. Analisa hasil diskusi dibuat dengan pertanyaan yang spesifik. Berikut ini adalah beberapa jenis pertanyaan ketika mendiskusikan Job Safety Analysis meliputi:

1. Dapatkah pekerja tertabrak atau kontak dengan apapun saat melakukan langkah kerja ini?,
2. Dapatkah menabrak atau mengontak dengan apapun?,
3. Dapatkah siapa saja terjepit di antara atau di dalam apapun?,
4. Dapatkah pekerja mengalami nyeri terkilir?,
5. Dapatkah pekerja terpeleset, tersandung atau terjatuh?,
6. Dapatkah siapa saja terpapar oleh gas, panas, debu, asap, zat kimia, tekanan, asbes, dll?,
7. Dapatkah pekerja tersebut mengalami cidera atau menciderai rekan kerjanya saat melakukan pekerjaan tersebut?,
8. Dapatkah kerusakan pada peralatan terjadi?,
9. Dapatkah polusi lingkungan terjadi?

Pertanyaan ini seharusnya ditanyakan pada tiap langkah kerja. Tulis bahaya dari tiap langkah kerja. Hal ini dikarenakan Anda akan membutuhkannya ketika mencari cara pengendaliannya.

Pembuatan Solusi atau kendali

Suatu solusi atau kendali dapat menjadi beberapa bentuk. Solusi dapat berupa:

1. Pendekatan Radikal

Solusi radikal biasanya berupa kombinasi antara prosedur kerja maupun lingkungan yang dapat menghasilkan peningkatan pada biaya, waktu, keselamatan dan hasil. Solusi radikal ini seharusnya diutamakan dalam pembuatan pengendalian potensi bahaya sebelum Anda memulai membuat beberapa solusi yang spesifik, contohnya: apa tujuan dan dapatkah kita mencapainya dengan mengubah cara kita bekerja?

2. Prosedur Kerja

Apa yang pekerja harus lakukan dan tidak boleh dilakukan untuk menghingdari potensi kecelakaan kerja tertentu. Solusi ini seharusnya digunakan jika pendekatan radikal tidak dapat dilakukan.

3. Lingkungan Kerja

Solusi ini adalah satu yang mengubah beberapa aspek lingkungan kerja untuk menghindari kecelakaan. Perubahan itu dapat meliputi apapun yang berupa bagian fisik di sekitar tempat kerja. Contoh: perkakas yang berbeda, peralatan alternatif, pembatasan lokasi kerja, penerangan lokasi kerja dan sebagainya. Solusi lingkungan kerja harus digunakan jika prosedur tidak efektif menangani resiko tersebut.

4. Frekuensi Berkurang

Adalah salah satu cara untuk mengendalikan potensi terjadinya bahaya dengan cara mengurangi jumlah berapa kali pekerjaan berbahaya tersebut dilakukan. Pendekatan ini langsung mengeliminasi atau mengurangi penyebab kondisi yang memerlukan perbaikan.

Menyelesaikan Pembuatan Job Safety Analysis

Sebelum Job Safety Analysis disahkan, haruslah ditinjau kembali di akhir pekerjaan tersebut selesai. Ketika meninjau ulang JSA tersebut, Anda harus mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:

1. Apakah ada langkah kerja yang berubah?,
2. Apakah teridentifikasi bahaya tambahan atau baru?,
3. Solusi atau kontrol apa yang sudah dibuat untuk bahaya baru yang teridentifikasi tersebut?,
4. Apakah terdapat pengaruh luar yang dapat mempengaruhi pekerjaan tersebut?,

Ketika Job Safety Analysis selesai dibuat dan dilakukan peninjauan ulang, pengawas kerja harus mendokumentasikannya. Job Safety Analysis juga harus dilampirkan dengan ijin kerja jika diperlukan.

Analisa Keselamatan Kerja

ANALISA KESELAMATAN KERJA



Analisa Keselamatan Kerja atau sering disingkat menjadi AKK atau dalam bahasa Inggrisnya Job Safety Analysis (JSA) dibuat ketika akan melakukan pekerjaan yang baru (belum pernah dilakukan sebelumnya) atau berresiko tinggi. Analisa Keselamatan Kerja (AKK) dibuat sebagai sebuah prosedur untuk merencanakan, mengidentifikasi cara kerja yang aman. Contohnya adalah bekerja pada ketinggian, bekerja di dalam ruang terbatas (Confinend Space), bekerja pada pekerjaan memindahkan beban berat, bekerja dengan menggunakan api, dll.

Pengertian Analisa Keselamatan Kerja (AKK)

Analisa Keselamatan Kerja adalah cara mengenali bahaya-bahaya dan meningkatkan cara menangani potensi bahaya tersebut. Pelaksanaan Analisa Keselamatan Kerja dilakukan sebelum memulai pekerjaan untuk mendeteksi atau memastikan bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan dengan cara yang aman.

Manfaat membuat Analisa Keselamatan Kerja (AKK)

Berikut ini beberapa manfaat membuat Analisa Keselamatan Kerja sebelum memulai suatu pekerjaan:
1. Menghilangkan atau mengurangi resiko terjadinya kecelakaan,
2. Memberikan kesadaran akan keselamatan terhadap personil yang terlibat (pekerja, supervisor, maupun manager),
3. Memberikan kesempatan bagi pekerja untuk memberikan masukan terhadap safety pada pelaksanaan pekerjaan. Hal ini dikarenakan pekerja tersebutlah yang terlibat langsung dengan pekerjaan tersebut (mainforce),
4. Meningkatkan pengetahuan tentang pekerjaan yang akan dilakukan,
5. Jelasnya tanggung jawab pencegahan terhadap terjadinya kecelakaan (mudah teridentifikasi),
6. Hemat waktu (karena AKK yang baik dan benar dapat mengorganisir terhadap pemilihan peralatan kerja yang teridentifikasi),
7. Meningkatkan komunikasi.


Metode untuk membuat Analisa Keselamatan Kerja (AKK)

Berikut ini ada 3 (tiga) cara/metode untuk membuat Analisa Keselamatan Kerja, yaitu :
1. Dengan observasi langsung,
2. Dengan diskusi kelompok,
3. Dengan peninjauan dan pemeriksaannya.
Penjelasan mengenai metode/cara untuk membuat Analisa Keselamatan Kerja dapat Anda lihat di Cara Membuat Job Safety Analysis.

Tahapan dalam membuat Analisa Keselamatan Kerja:


1. Pilih pekerjaan yang akan dianalisa,
2. Pecah pekerjaan tersebut menjadi beberapa langkah kerja,
3. Lakukan identifikasi bahaya yang mungkin timbul pada setiap langkah kerja tersebut,
4. Buat pengendalian di setiap bahaya yang teridentifikasi pada setiap langkah kerja yang dilakukan,
5. Catat setiap temuan tersebut ke dalam lembaran Analisa Keselamatan Kerja (atau yang sering disebut lembaran JSA/Job Safety Analysis),
6. Gunakan Analisa Keselamatan Kerja tersebut untuk pekerjaan tersebut,
7. Lakukan peninjauan ulang dan perbaharui lembar Analisa Keselamatan Kerja tersebut ketika terjadi perubahan pada pekerjaan tersebut,
8. Lembaran Analisa Keselamatan Kerja yang sudah selesai dibuat dan digunakan dalam pekerjaan yang rutin dilakukan, maka Anda perlu membuat Lembaran Analisa Keselamatan Kerja tersebut menjadi prosedur kerja.
Your left Slidebar content. -->